Sunday, February 5, 2012

Lirik "Kalian Memang Menyedihkan"

CLICK HERE FOR LYRIC EXPLANATIONS IN ENGLISH

GANYANG NASIONALISME
Saat kau sibuk mengklaim budaya dan tradisi, dipatenkan sebagai hak milik, aku tak sepakat denganmu. Budaya dan tradisi tak pernah bertuan. Ganyang saja nasionalisme. Isu ganyang mengganyang adalah ilusi yang membuatmu lupa akan betapa miskinnya mayoritas dari kita semua secara ekonomi

** Pesan utama dalam lagu ini adalah, isu nasonalisme dan isu “kekayaan budaya bangsa”, adalah sebuah ilusi yang membuat orang lupa akan kenyataan tentang betapa miskinnya mayoritas dari manusia dalam bidang ekonomi. Saat isu “kekayaan budaya bangsa” disiarkan, mendadak kita lupa tentang sahabat kita yang baru saja dipecat dari tempat kerjanya, sedang putus asa memikirkan bagaimana cara memberi anaknya makan. Mendadak kita lupa bagaimana ketimpangan ekonomi dan sosial antar manusia sangatlah tidak masuk akal. Lagu ini merupakan sebuah respon atas beberapa konflik kultural yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia, dimana kedua negara ini sempat saling mengklaim kebudayaan-kebudayaan daerah berdasarkan batas-batas negara. Banyak orang berpendapat bahwa “produk kebudayaan” tertentu (tari-tarian, atau lagu daerah, dan bahkan nada, misalnya) adalah milik negara yang menguasai teritori dimana budaya itu dilahirkan, dan kemudian menjadi “milik” siapapun yang berkewarganegaraan dan mengantongi Kartu Tanda Penduduk dalam teritori tersebut. Padahal yang lebih berhak untuk hal itu adalah masyarakat adat yang telah turun temurun mempertahankan kebudayaan mereka sendiri.

Wajar saja. Sejak kecil kita sudah sangat terbiasa dengan ide bahwa bumi ini terbagi-bagi atas teritori-teritori. Dan setiap teritori memiliki penguasa, dan penguasa ada untuk kebaikan rakyatnya. Kebudayaan lokal harus menjadi hak milik negara, karena ia adalah sumber devisa negara, yang kemudian hanya sepersekian persen saja yang sampai di tangan masyarakat adat.

Tapi mari coba pikir baik-baik. Tanpa adanya batas-batas negara, semua konflik konyol tersebut tidak perlu terjadi. Kenapa konyol?Karena pada banyak kasus, batas-batas negara adalah buatan sebuah budaya yang umurnya jauh lebih muda dibandingkan umur budaya-budaya yang produknya sedang diperebutkan tersebut. Hal itu sama konyolnya dengan memperebutkan hak milik atas pepohonan, yang tumbuh bebas dimanapun juga sejak manusia masih hidup berpindah-pindah tempat. Pada kenyataannya, bahkan ikan-ikan yang kebetulan melewati perairan Indonesia pun, diklaim sebagai hak milik negara Indonesia, yang hanya boleh ditangkap oleh mereka yang memiliki KTP Indonesia (untuk kemudian dijual kepada para pengusaha dari manapun mereka berasal, tentunya.)

Gerakan “Ganyang Malaysia” adalah gerakan yang pada awalnya diprakarsai oleh para penguasa, dan untuk kepentingan mereka. Gerakan Ganyang Malaysia tidak akan memberikan kebebasan apapun padamu. Ia hanya membuat pagar-pagar yang membatasi ruang gerakmu menjadi lebih kokoh. Jangan biarkan konflik para penguasa dunia menjadi konflikmu. Lebih baik kita usahakan untuk menghapus batas-batas semu tersebut dari muka bumi, karena bumi dan semua yang ada di atasnya tidak pernah bertuan.


SWASTIKA MEWAKILI DIRIMU??
Mungkin bogemmu cukup besar, lebih besar daripada otakmu. Apa yang ada dalam pikiranmu, swastika pada lengan coklatmu? Kau bonehead-bonehead berkulit gelap, cocok jadi kudapan si Setan*.  Terlalu dungu untuk hidup. Apa yang ada dalam pikiranmu, swastika mewakili dirimu? Brown Power itu konyol!

** Sebutan bonehead mengacu pada gerakan  skinhead rasis ultra-nasionalis yang mempertahankan kepercayaan supremasi kulit putih. Singkatnya, mereka itu neo-nazi dengan keyakinan bahwa ras arya adalah ras yang paling unggul, dan demi mempertahankan kemurnian ras mereka serta berkuasanya ras mereka di muka bumi, maka tentu saja bagi mereka ras lain (ras kulit berwarna, misalnya asia, afrika, hispanik, yahudi, native american, dll) tidak layak untuk hidup dalam tingkatan yang setara dengan mereka. Kebencian terhadap ras lain adalah bensin dari segala aksi mereka dan tentu saja, karena kesamaan visi dan misi,  mereka juga mengenakan simbol swastika Nazi sebagai salah satu identitasnya. Apa yang biasa mereka lakukan adalah menteror para “pendatang” (orang-orang dengan kulit berwarna), memukuli dan bahkan membunuh. Contoh paling mudah diingat dari kultur bonehead dapat dilihat dalam film “American History X”.

Lalu apa jadinya kalau ternyata pada kenyataannya, ada juga bonehead namun kulitnya berwarna? Bayangkan seseorang yang jelas-jelas secara fisik tidak dapat dikategorikan sebagai “kulit putih”, mengenakan logo swastika Nazi sebagai identitasnya. Tentu saja hal itu adalah lawakan sekaligus ironi menyedihkan terbesar. Layaknya seekor rusa (mangsa) yang mengadopsi dan berpenampilan seperti singa (pemangsa) yang kemudian mulai membenci rusa lainnya yang tampak agak berbeda dengan dirinya. Menggelikan. Tapi jangan tertawa terlalu lama, karena hal tersebut adalah kenyataan. Pernah dengar mengenai fenomena adanya bonehead di Indonesia atau Malaysia? Brown Power sebagai adaptasi White Power? Dan apakah kami perlu menjelaskan lebih jauh mengenai betapa konyolnya hal tersebut?

* “Setan” dalam lirik ini tidak mengacu pada sosok imajiner penghuni neraka yang bertanduk, berekor runcing dengan gigi-gigi taring dan suka menyiksa mereka yang masuk neraka. “Setan” disini juga bukanlah sosok mistis yang sering menampakan diri dan mengganggu manusia seperti Suzzanna. “Setan” disini adalah nama teman kami, seekor anjing betina yang sangat jinak dan tak pernah mengancam siapapun juga. Beberapa teman memanggilnya dengan nama Macan. Jadi, maksud dari “kudapan si Setan” adalah cemilan untuk si Setan.


MILISI KECOA
Kami barisan kecoa datang berhamburan, siap mengepung dan merusak pestamu. Coba punahkan kami, usahamu sia-sia. Tak ada yang berhasil musnahkan kami.  Coba bunuh satu saja dari kami, dan jumlah kami berlipat ganda. Coba punahkan kami, usahamu sia-sia. Tak ada yang berhasil musnahkan kami

** Lagu ini adalah sebuah persembahan bagi komunitas punk DIY, para insurgen dan siapapun yang tidak sepakat dengan sistem dominan yang eksploitatif, dimanapun mereka berada. Kecoa adalah salah satu spesies menakjubkan dan menarik yang pernah ada. Dan kami melihat adanya kesamaan antara kecoa dengan komunitas punk dan insurgen secara global, walaupun tidak 100% sama. Dalam lagu ini, kata kecoa itu sendiri merupakan penggambaran dari komunitas punk dan insurgen internasional. Sama seperti komunitas punk dan insurgen, kecoa dapat ditemukan hampir dimana-mana di dunia ini. Ada yang tersembunyi di balik bebatuan dan benda-benda lainnya, ada juga yang dapat kita temukan dengan mudah. Mereka juga sama-sama tidak -atau belum- punah sampai hari ini. Tidak seperti hewan lain seperti domba yang digembalakan, kecoa tidak pernah didomestikasi alias dijinakkan oleh manusia. Karenanya, kecoa tidak pernah memiliki tuan atau majikan, dan menjadi “mainan” para majikannya, sama seperti idealnya komunitas punk dan insurgen. Selain itu, keberadaan kecoa dapat menimbulkan kengerian tertentu dan menjadi ancaman secara psikologis bagi kebanyakan orang. Entah apa yang mereka takutkan dari mahluk sekecil kecoa, tapi dampaknya cukup besar. Bisakah kalian tetap tenang saat kecoa dalam jumlah banyak berkeliaran di meja makan atau menyerang kamar kalian? Manusia seringkali membasmi kecoa, karena kecoa dianggap hewan yang kotor dan menyebar penyakit, sama seperti komunitas punk dan insurgen yang seringkali dianggap sebagai sampah masyarakat. Tapi seberapapun besarnya usaha untuk membasmi mereka, kecoa tidak pernah punah. Injak saja seekor kecoa, maka pasukan yang lebih banyak akan datang mendeteksi bau darah saudaranya yang diinjak. Sementara kata “milisi”, tidaklah sama dengan militer. Milisi juga bukanlah sebuah lembaga atau organisasi baku. Milisi mengacu pada sekumpulan individu bebas yang mempersenjatai dan mengorganisir diri mereka sendiri secara spontan dan otonom, dengan kepentingan dan  tujuan-tujuan tertentu, entah itu untuk mempertahankan diri, mempertahankan keluarga, hak hidup dan lain sebagainya, dari ancaman yang ada. Milisi hanya ada saat ia dibutuhkan. Sementara kata “militer” mengacu pada sekumpulan massa yang terlatih dan diorganisir oleh negara untuk melayani kepentingan-kepentingan negara, hingga kepentingan ekonomi. Militer bergerak berdasarkan komando dari para majikan, sementara milisi bergerak berdasarkan kebutuhan bersama dan solidaritas. Jadi, apakah kamu bagian dari milisi kecoa? Atau kalian hanya sekumpulan domba yang melayani kepentingan para penggembala? Tanya pada diri kalian sendiri.


USIR PARA JAGOAN
Kau menyulut keributan dan mencari musuh di dalam moshpit. Ingin jadi jagoan? Kau rusak kesenangan semua orang. Apa yang kau cari? Macho tai babi! Ayo teman-teman, kita usir para jagoan

** Sering terjadi perkelahian dalam sebuah acara punk yang dikelola secara DIY. Ada perkelahian yang konyol, dalam artian, konflik yang ada bukanlah konflik yang esensial dan cukup penting untuk diperjuangkan, dan ada juga perkelahian yang memang harus terjadi untuk menyelesaikan sebuah masalah besar yang tidak dapat lagi didialogkan. Namun, yang konyollah yang lebih sering terjadi. Lebih seringnya lagi, perkelahian seperti ini dimulai oleh orang-orang yang memiliki mental macho dan terlalu sensitif. Entah karena tidak sengaja tersikut dalam moshpit, atau karena alesan sentimental tak mendasar terhadap kelompok lain, atau juga dendam pribadi yang tidak ada urusannya dengan orang-orang lain. Tahukah kalian, acara DIY dikelola oleh teman-temanmu sendiri, dan bukan oleh pihak-pihak yang hanya ingin merogoh keuntungan dari kantongmu? Jelas saja mereka jugalah yang akan menanggung semua resiko pada pundak mereka. Acara DIY dibiayai secara mandiri tanpa ada kepentingan ekonomi apapun yang terlibat. Dan bukannya berkontribusi, para manusia macho ini hanya mementingkan siapa yang terkuat. Moshpit dan lantai dansa bukanlah arena gladiator atau Ultimate Fighting Championship. Lantai dansa bukanlah tempat untuk membuktikan siapa yang terkuat. Moshpit dan lantai dansa adalah tempat dimana kita semua berbagi energi, sekaligus kesenangan dan sukacita. Moshpit dan lantai dansa bukanlah tempat untuk para jagoan.


BAGAI RAYAP
Membangun komunitas bukan hal sepele. Bersama kita tumbuh dan berkembang. Susah payah kita bangun rasa saling percaya, hingga kau rusak semuanya.  Kau bagai rayap dalam rumah yang kita bangun bersama. Hingga suatu hari semuanya bisa rapuh dan runtuh percuma. Omong kosong semua tentang “duduluran”, omong kosong tentangmu.

** Masalah ekonomi adalah masalah besar yang dihadapi oleh semua orang. Kamipun mengerti bahwa bentuk masyarakat hari ini bukanlah bentuk yang terbaik untuk keberadaan manusia, terutama pada sistem perekonomiannya. Banyak orang yang membangun komunitas-komunitas alternatif untuk mulai mempraktekkan bentuk masyarakat yang lebih ideal, yang otonom dan non-hirarkis, yang bergerak berdasarkan solidaritas, rasa saling percaya dan bebas prejudis. Karena komunitas-komunitas semacam ini masih hidup di tengah budaya yang menjadikan uang sebagai satu-satunya alat tukar, tak dapat dihindari bahwa dalam beberapa kebutuhannya sebuah komunitas pun memerlukan uang dalam beberapa hal. Bedanya, uang ini dikumpulkan dan diatur bersama-sama, digunakan untuk kebutuhan komunitas tersebut agar ia dapat tetap hidup. Namun apa yang terjadi saat individu dalam komunitas merasa bahwa kebebasan itu tidak terbatas? Beberapa contoh kasus yang pernah terjadi adalah, pencurian di dalam komunitas sendiri. Sungguh hal ini sangat merusak sebuah komunitas. Masalahnya bukanlah apakah mencuri itu adalah tindakan yang salah atau benar, namun siapa yang kau curi. Kenalilah targetmu. Saat kau mencuri dari komunitas alternatif dimana kau terlibat di dalamnya, secara tidak sadar kau sedang menghancurkan komunitasmu sendiri. Terlebih lagi, rasa saling percaya dan solidaritas yang telah dibangun. Idealnya, kau dapat membicarakan masalah keuanganmu dengan komunitas, karena bisa jadi komunitasmu mampu membantumu.


INI BUKAN ARAB, BUNG!
Kau paksakan budaya, tapi kita bukan di Arab di jaman nabi. Cepatlah kau mati, tagih pahalamu di surga. Surgamu, nerakaku. Ini bukan arab, bung. Bukan!

** Lagu ini bukanlah sebuah serangan terhadap pemeluk agama tertentu, tapi merupakan sebuah kritik terhadap mereka yang memaksakan hukum agamanya pada semua orang di sekitar mereka tanpa pandang bulu. Lagu ini adalah kritik terhadap mereka yang melakukan penghakiman terhadap orang-orang di sekitarnya yang mereka anggap telah melanggar hukum yang mereka yakini, dan layak mendapat hukuman. Agama dan keyakinan adalah hal yang sangat personal. Memiliki mimpi dan ideal tertentu adalah hal yang wajar dan alami, namun saat kau menghancurkan hidup orang lain untuk memaksakan apa yang kau percaya, hal itu sangatlah mengganggu. Mimpi dan ideal yang kau percaya dan yakini, adalah milikmu sendiri. Jangan paksakan orang lain untuk memiliki mimpi yang sama denganmu. Apalagi saat kau membangun sebuah organisasi paramiliter untuk memaksakan apa yang kau inginkan dan kemudian menghancurkan hidup orang lain. Agama beserta semua hukum-hukumnya adalah hal yang personal, dan biarkan hal itu tetap personal. Kami tak peduli apa yang kau percaya, tapi satu hal yang pasti, kau tak dapat paksakan apa yang kau yakini pada orang lain. Lagipula, apa gunanya kalau orang lain ikut jalanmu dengan dilandasi keterpaksaan?


KALIAN MEMANG MENYEDIHKAN
Hidupku bukanlah urusanmu! Cari tahu segala tentangku, asumsikan segala yang kau dengar. Jangan coba simpulkan hidupku. Kalian memang menyedihkan! Hidupku bukan untuk hiburanmu! Sebarkan kebohongan tentangku untuk mengisi kehampaan hidupmu. Tak ada lagikah yang menarik bagimu? Kalian memang menyedihkan! Kau penggosip!

** Perhatikan. Saat kalian sedang berkumpul dengan teman-teman kalian, apa yang kalian bicarakan? Mana yang porsinya lebih banyak, apakah kalian saling berbagi cerita hidup kalian masing-masing, atau kalian lebih banyak berbagi cerita mengenai orang lain yang sedang tidak hadir bersama kalian? Untuk kalian yang senang membuat asumsi atas hidup teman kalian dan bukannya secara langsung mencoba mengenalnya lebih jauh lewat komunikasi; Kalian yang senang membuat kesimpulan atas hidup seseorang hanya berdasarkan asumsi dan batasan-batasan moralitas kalian; Kalian yang terlalu banyak ingin tahu tentang urusan privat hidup orang lain; Kalian yang menghibur diri dengan cara mengubah asumsi-asumsi murahan menjadi fakta, mempercayainya, dan menyebarkan gosip bohong murahan tentang teman kalian sendiri; oh kalian memang menyedihkan! Apa hidup kalian sebegitu membosankannya? Begitu kosong, sehingga tak ada lagi yang bisa kalian bagi dalam cerita selain cerita tentang orang lain?


KAMI MARAH!
Kau coba dominasi hidup kami. Bungkam dan jinakkan kami. Asingkan kami dari hidup ini. Mengapa kami harus diam saja?!
Kami marah!

** Ini adalah seruan kami pada siapapun yang merasa inferior dan pasrah terhadap dunia yang tidak baik-baik saja. Atau bagi mereka yang merasa bahwa tak ada yang dapat dilakukan untuk merubah dunia ini selain menggerutu dan mengeluh. Sikap mengalah, menyerah, inferior dan pasrah adalah salah satu hal yang membuat dunia ini tak pernah berubah. Pesan dalam lagu ini cukup sederhana, yaitu jangan pernah menganggap sebuah ketidakadilan dan kondisi buruk sebagai sesuatu yang “sudah dari sananya” dan harus dijalani dengan lapang dada. Kalau semua orang berpikir seperti itu, tentu saja kita akan terus hidup dalam lubang pantat seperti sekarang. Sedari kecil kita semua memang dikondisikan untuk terus tunduk, menerima semua kondisi dengan “lapang dada”, narimakeun, terus menjadi lemah, dan mempercayakan nasib hidup kita pada tangan orang lain. Tapi, mau sampai kapan kita menjadi pasrah? Amarah adalah salah satu amunisi yang sangat potensial untuk membakar dunia ini, dan kemudian merubah dunia ini, membangun dunia yang baru di atas puing-puing dunia yang lama. Jadi, mari yakinkan diri kita, dan marahlah atas semua keadaan ini. Bukan hanya marah secara verbal, tapi lakukan sesuatu yang berlandaskan amarah kita terhadap dunia ini. Itulah mengapa punkrock lahir pada awalnya. Katakan: “Cukup dengan semua ini! Kami ingin hidup, bukan hanya bertahan hidup.” Salurkan amarah pada dunia dan mulai kumpulkan teman-temanmu untuk membangun sesuatu.


PUNKROCK, TERDOMESTIKASI
Punkrock jadi hiburan di panggung. Punkrock papan iklan berjalan. Punkrock dibayar untuk menghibur. Sekalian saja ikut kampanye parpol. Punkrock tak punya sikap. Netral itu dungu! Punkrock doger monyet, semua bertepuk tangan! 

** Domestikasi adalah sebuah istilah yang menggambarkan kegiatan manusia mengambil sesuatu dari alam liar, menjinakkannya, dan menempatkannya pada kondisi-kondisi baru yang tidak sama dengan kondisi aslinya di alam liar, kemudian memaksakannya untuk hidup di bawah cara-cara dan nilai-nilai manusia. Hewan, tanaman, tanah, apapun yang liar, ditarik dari alam liar, dijauhkan dari sifat, naluri dan kehidupan alamiahnya. Kebanyakan hewan didomestikasi untuk alasan ekonomis. Contohnya, untuk menyediakan makanan atau menjadi komoditas bernilai lainnya. Domestikasi adalah sebuah relasi yang mencerminkan dominasi dan eksploitasi.
Lirik ini bercerita (sekaligus kritik) mengenai bagaimana punkrock telah terdomestikasi seperti layaknya singa dalam tenda sirkus. Punkrock telah kehilangan taringnya, dijinakkan dan dijadikan tontonan seperti layaknya monyet atau beruang yang mengendarai sepeda. Punkrock bukan lagi ancaman, melainkan objek tontonan. Punkrock sudah melenceng sangat jauh dari sejak awal kelahirannya. Apakah kau ingin punkrock hanya menjadi sekedar hiburan, dirantai dan dikagumi masyarakat? Mungkin  saja tidak. Tapi akui bahwa ini adalah kenyataan.

No comments:

Post a Comment